Mahasiswa Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta Bergerak Hadapi Tuberkulosis di Pondok Ranji
Berita FIKES Online,- Wilayah Kelurahan Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan menjadi tempat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membuktikan bahwa pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas. Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) yang berlangsung sejak 9 Januari menjadi perantara Mahasiswa untuk turun langsung ke masyarakat dengan satu fokus utama, yaitu Tuberkulosis (TBC).
Berdasarkan dari hasil analisis situasi di wilayah kerja Puskesmas Pondok Ranji, Mahasiswa menemukan fakta lapangan bahwa di Kelurahan Pondok ranji hanya terdapat 2 orang kader TBC yang aktif mendampingi masyarakat. Kondisi ini memperlihatkan betapa besarnya tantangan pengendalian TBC di Kelurahan Pondok Ranji. Oleh karena itu, mahasiswa berinovasi dengan merancang 3 program intervensi yang saling terintegrasi, yaitu WASPADA TBC, SARING TBC, dan PATUH TBC. Seluruh rangkaian program tersebut dilaksanakan oleh Kelompok 1 PBL Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang terdiri atas Dinda Azizah Atallahsyah, Lovita Zahra, Nasywa Alya Salsabila, Shira Aurelia Azra, Nadya Qisthi Amalia, Rifka Intan Syuhada, dan Zahra Abdi Riana di bawah bimbingan Ibu Riastuti Kusuma Wardani, M.K.M., Ph.D.
Program WASPADA TBC (Warga Sadar dan Peduli TBC) menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran masyarakat. Dengan dilaksanakannya pemasangan spanduk di titik-titik strategis, Mahasiswa ingin memastikan pesan pencegahan TBC hadir dan tersampaikan langsung pada masyarakat. Kesadaran masyarakat kemudian diperkuat melalui SARING TBC (Sosialisasi Skrining dan Pengawasan Tuberkulosis) yang digelar pada Selasa 3, Februari 2026 di Majelis Ta’lim Baiturrahim RW 006.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kader Posyandu, Kader TBC, dan Perwakilan Kelurahan serta Puskesmas. Dalam sesi tersebut, Ibu Riastuti Kusuma Wardani, M.K.M., Ph.D, menyampaikan bahwa Indonesia masih berada pada posisi kedua tertinggi kasus TBC di dunia. Beliau pun menegaskan bahwasanya TBC bukan merupakan penyakit kutukan dan tidak mengenal status sosial.
“TBC bisa dicegah dan dikendalikan jika ditangani sejak dini dan kader memiliki peran kunci sebagai agent of change atau agen perubahan di masyarakat,” ungkapnya di hadapan para kader.
SARING TBC semakin bermakna dengan mahasiswa yang memperkenalkan Buku Panduan PATUH TBC (Pendampingan dan Pemantauan Terapi Pencegahan TBC). Buku ini dihadirkan sebagai alat bantu kader dan keluarga pasien agar TPT dapat dijalani secara teratur dan sesuai anjuran. Isinya mencakup materi dasar TBC, penjelasan TPT, panduan konsumsi obat, hingga lembar pemantauan kepatuhan minum obat.

Para kader mengaku sangat terbantu dengan adanya Buku PATUH TBC dan kegiatan SARING TBC, khususnya sesi sharing yang membuka ruang pertukaran pengalaman lapangan. Antusiasme kader terlihat sepanjang kegiatan dengan harapan buku panduan ini dapat digunakan secara rutin dalam pendampingan pasien TBC di wilayah mereka. Dukungan juga datang dari pihak kelurahan. Bapak Asmin, selaku perwakilan Kelurahan Pondok Ranji, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap program intervensi yang dilaksanakan mahasiswa. Beliau bahkan membagikan pengalaman pribadinya sebagai penyintas TBC, sekaligus menegaskan pentingnya kepatuhan minum obat. Menurutnya, ketidakpatuhan dalam pengobatan hanya akan memperpanjang penderitaan dan berisiko mengulang pengobatan dari awal.
Lebih dari sekadar memenuhi kewajiban akademik, PBL ini menjadi ruang belajar tentang empati, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial. Dari spanduk yang terpasang, diskusi yang hangat, hingga buku panduan yang kini berada di tangan kader, mahasiswa dan masyarakat Pondok Ranji bergerak bersama menghadapi TBC. Pelan, tetapi penuh harapan bahwa perubahan selalu dimulai dari kepedulian di tingkat paling dekat dengan kehidupan warga. (PBL Kelompok 1)
